Tragedi Stadion Kanjuruhan Telan 127 Jiwa, Penggunaan Gas Air Mata Jadi Sorotan

0
240
Kerusuhan pecah di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, (1/10) usai laga Arema FC melawan Persebaya. Puluhan orang dikabarkan meregang nyawa dalam kejadian tersebut. (Foto Jawapos.com)

JAKARTA – Kabar duka datang dari Jawa Timur, 127 orang dilaporkan meninggal dunia dan ratusan lainnya menjalani perawatan di rumah sakit akibat kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Kericuhan terjadi sesaat usai wasit meniup peluit panjang babak kedua antara Arema Malang melawan Persebaya Surabaya, Sabtu 1 Oktober 2022 malam. Massa suporter meringsek masuk ke dalam lapangan hingga mengundang reaksi petugas.

Tembakan gas air mata itu menaburkan asap tebal di sisi tribun dan lapangan. Puluhan ribu suporter lantas berhamburan menyelamatkan diri mencari pintu keluar yang terbatas. Banyak yang terjatuh, terinjak, karena berdesakan mencari selamat. Korban pun mulai berjatuhan.

Pengamat Sepak Bola Tommy Welly menyesalkan tragedi itu. Dia pun mengkritik sejumlah pihak termasuk panita penyelenggara pertandingan, PSSI hingga petugas keamanan yang mengamankan laga derby Jawa Timur tersebut.

“Saya nggak tahu apa lagi yang harus diucapkan atas kejadian ini, rasanya kehabisan kata-kata. Fanatisme itu boleh, tapi bodoh itu jangan,” katanya saat diwawancarai salah satu stasiun televisi nasional terkait peristiwa itu, Minggu (2/10).

Dia mempertanyakan mengapa petugas menggunakan gas air mata saat pengamanan di dalam stadion. Padahal menurut regulasi FIFA pada Stadium Safety and Security Regulation, Pasal 19 poin B hal itu jelas-jelas dilarang.

“Kalau kita lihat aturan FIFA Stadium Safety and Security Regulation, penggunaan senjata api dan gas air mata itu dilarang. Kita nggak tahu kenapa hal itu bisa terjadi, apakah kurang sosialisasi dari penyelenggara atau apa,” ungkapnya.

Laga panas antara Arema melawan Persebaya tadi malam berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan tim berjuluk Bajul Ijo tersebut. Ini adalah pertama kali Persebaya menang di kandang Arema sejak sekira 23 tahun terakhir.

Penjelasan Kapolda Jawa Timur 

Sebelumnya, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta mengatakan, dari 127 orang yang meninggal dunia tersebut, dua di antaranya merupakan anggota Polri.

“Dalam kejadian itu, telah meninggal 127 orang, dua di antaranya adalah anggota Polri,” kata Nico dalam jumpa pers di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10).

Nico menjelaskan, sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, sementara sisanya meninggal saat mendapatkan pertolongan di sejumlah rumah sakit setempat.

Menurutnya, hingga saat ini terdapat kurang lebih 180 orang yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit tersebut.

Selain korban meninggal dunia, tercatat ada 13 unit kendaraan yang mengalami kerusakan, 10 di antaranya merupakan kendaraan Polri.

“Masih ada 180 orang yang masih dalam perawatan. Dari 40 ribu penonton, tidak semua anarkis. Hanya sebagian, sekitar 3.000 penonton turun ke lapangan,” tambahnya.

Sesungguhnya, lanjutnya, pertandingan di Stadion Kanjuruhan tersebut berjalan dengan lancar. Namun, setelah permainan berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa dan beberapa di antara mereka turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial.

Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain. Dalam prosesnya, akhirnya petugas melakukan tembakan gas air mata.

Menurutnya, penembakan gas air mata tersebut dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.

“Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen,” katanya.

Pemda Malang Tanggung Biaya Pengobatan 

Sementara itu, Bupati Malang M. Sanusi menyatakan, seluruh biaya pengobatan para suporter yang saat ini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Malang.

“Kami mengerahkan seluruh ambulans untuk proses evakuasi dari Stadion Kanjuruhan. Untuk yang sehat dan dirawat, biaya semua yang menanggung Kabupaten Malang,” kata Sanusi.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini