Dialog Budaya : Implementasi nilai-nilai luhur dalam Manuskrip Kuno,bagi Pemberdayan Perempuan

0
7
Penyampaian materi dialog budaya oleh Nyi Mas Tumenggung Sestrorukmi (Dr.Sri Ratna Saktimulya,M.Hum

RADAR NASIONAL,- (Yogyakarta),- Ada yang bisa ditauladani seorang Gusti putri Pakualaman atau permaisuri Paku Alam X,beliau  aktif diberbagai bidang mulai di Posyandu , UMKM Pembatik, berbagai komunitas lainnya.Tentu saja ada kiat tertentu yang dipegang Gusti putri Pakual Alam X.

Demikian disampaikan Dr.Sri Ratna Sajtimulya M.Hum dalam Dialog Budaya dengan topik : “Sumbangan Kadipaten Pakualaman dalam Pemberdayaan Perempuan Indonesia”  di ruang  Danawara Puro Pakualaman Yogyakarta Jumat (17/4/2026

Menurutnya, berdasarkan  manuskrip kuno yang jelas pesan Gusti putri ,tidak bisa bergerak sendsen- sendiri tetapi mari bersama mendukung gerak yang positif, optimis saling bergandeng tangan untuk kemajuan Yogyakarta dan yang lebih luas lagi Indonesia melalui perempuan perempuan.

“Ada nilai nilai yang masih hidup dari sosok perempuan yakni empati, nalar, penting juga berupaya ihtiar yang terungkap dalam manuskrip kuno di Pura Pakualaman seperti Babad Metawis, Candranata,tentang Panembahan Senopati, ada nilai piwulang piwulangnya.”ungkap

Ditambahkan,ada serat Rama Harjunowijoyo, tentang bagaimana sikap yang harus dilakukan sikap optimis, positif negatif seperti dalam Sestrodi yang ada disetiap manuskŕip mamuskrip berbagai periode dari Pakualaman II sampai ke VI. Beberapa Manuskrip kuno diantaranya Babad Matawis saha Candranata,

“Sing sapa atine ala,mesti ala kang pinanggih wong ala nemu ala wong becik nemu becik tan wurung tembe kaki,anemahi dadenipun,wong dhasarken raharja tan wurung nemu raharja ing dhewekne miwah sakturun-turunnya”

Terkait minat generasi muda belajar sejarah Pamualaman, Dr. Ratna Saktimulya, mengaku sangat sedikit.

” Generasi muda belajar sejarah tidak banyak sekalipun ada yang masih peduli, karena manuskrip sebagian besar menggunakan Bahasa Jawa, Belanda sehingga harus kerja keras belajar berbahasa Belanda,Jawa seolah olah menjadi momok meski demikian masih ada generasi muda yang peduli” Nyi Mas Temanggung Sestrorukmi.

Jejak Intelektual Perempuan Pakualaman

Sementara itu,Prof.Dr.Mutiah Amin dari Dept.Sejarah, UGM dalam paparan me ngatakan periode sejarah sangat penting misalnya periode kolonial tahun 20-an 20-an ke-30-an di Jogjakarta  ada   kongres perempuan pertama, event ini penting dalam catatan sejarah.

Bagaimana nasib keluarga dan bagaimana nasib pekerja perempuan dibahas dalam awal periode kolonial kemudian periode Jepang, di awal kemerdekaan menghadapi banyak tantangan yang dihadapi kedua tokoh perempuan yakni,RA Soetartinah dan RA Maria Soelastri,apa yang kemudian dilakukan oleh kedua tokoh tersebut ada beberapa catatan.

Di dalam Kongres perempuan pertama Yayasan Taman Pendidikan Dewanti mengupayakan terbentuknya pendidikan itu mahal jadi jangan khawatir kalau sekarang pendidikan mahal, karena secara historis warisan kolonial bahwa pendidikan itu memang mahal dan butuh dana,

artinya pendidikan butuh dana yang perlu dikumpulkan sebagai bentuk empati bagaimana pendidikan itu tidak hanya membentuk atau mendirikan lembaga pendidikan tetapi juga perlu membangun sesusatu yang bisa menolong masyarakat sekitar untuk menempuh pendidikan.(xan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini