Dr. Sri Ratna : Purna Tugas Mengajar, Memilih Mendita Abdi Di Puro Pakualaman

0
158
Dr. Sri Ratna Saktimulya,M.Hum

RADAR NASIONAL ,–Tiga puluh tujuh tahun mengajar di Universitas Gadjah Mada, setelah purna tugas saya memilih “mendita” di Pakualaman untuk melihat lagi, setiap minggu 2- 3 kali menengok diantara jam mengajar kesini lalu kembali ke UGM sehingga kurang konsentrasi.

” Demikian disampaikan Dr. Sri Ratna Saktimulya, saat dijumpai sejumlah awak media setelah purna tugas akan lebih konsentrasi sebagai abdi dalem yang mengurus keberadaan manuskrip kuno lebih fokus  mengabdi sebagai abdi dalem di Puro Pakualaman.

Dalam pelepasan kepurnaan,Saktimulya   mempersembahkan karya Drama Tari  berjudul Adisari: Cahaya Kasih di Balik Penaklukan.Kisah Adisari diambil dari manuskrip kuno berjudul Babad Mentawis yang ditulis pada masa Paku Alam I(1812-1829)  September 1815, di ndalem Suryaningratan, Pakualaman Yogyakarta.

Atas prakarsa Paku Alam II(bertahan 1830-1858) teks disalin, diperkuat dengan menghadirkan aneka gambar pemertinggi kesan atas halaman naskah yang dikenal sebagai ilustrasi,ditorehkan dalam pola wedana renggan,wedana gapura renggan, rerenggan, pepadan dan rubrikasi.

Upaya penyelamatan dan penyebarluasan isi naskah kuno dengan mengalihaksarakan dari huruf Jawa ke huruf latin, dan mengalihbahasakan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, adalah dengan melakukan alih wahana.Atas prakarsa KGPAA Paku Alam X dan permaisuri,teks dan iluminasi pada naskah kuno skriptorium Pakualaman telah dialih wahanakan ke motif batik dan fragmen tari.

Pada kesempatan ini,atas izin KGPAA Paku Alam X,Program Studi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa,Fakultas Ilmu Budaya, UGM akan menyajikan alih wahana manuskrip kuno ke bentuk seni pertunjukan dengan mengangkat kisah Putri Adisari berdasarkan hasil kajian  Saktimulya.

Sinopsis: Dalam upayanya memperluas kekuasaan ke wilayah Jawa Timur,sesuai fatwa Sunan Giri, Panembahan Senopati beserta pasukannya berangkat 1 Sura,hari Jumat.Di tengah perjalanan tekad penyerbuan berubah saat ia mendengar kabar tentang Retna Dumilah putri raja Madiun yang cantik gemulai memikat hati Senopati jatuh cinta namun terselenggara dilema antara ambisi politik dan gejolak rasa. Adisari kekasih Senopati yang setia dan berhati luhur menjadi kunci penyelesaian.

Ia rela mengesampingkan perasaannya,diutus sebagai duta damai.Dengan kelembutan dan ketulusannya, Adisari berhasil menyentuh hati raja Madiun dan Retna Dumilah,meyakinkan cinta dan perdamaian lebih mulia daripada peperangan.Retna Dumilah pun bersedia menjadi permaisuri Senopati, Adisari tidak hanya menyatukan dua kerajaan tetapi juga menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu harus memiliki justru dengan merelakan.

Drama Tari ini memvisialisasi teks Babad Metawis,yang terakumulasi dalam kolom renggan bagian latar ditandai dengan gambar bendera, umbul-umbul, rontek, tombak, pedang, kendang, dan kumpul,mewakili kisah Panembahan Senopati beserta pasukannya ketika berperang untuk meluaskan wilayah ke Jawa Timur.

Drama Tari Adisari terdiri 6 babak  yakni  Babak I  “1 Sura Tanda Langit dan Jalan Senopati”.

Adegan ke-1 : Restu Sunan Giri. Diawali dengan upaya Panembahan Senapati memohon restu kepada Sunan Giri, berdasarkan pembicaraan dengan Ki Juru Martani diputuskan bahwa Panembahan Senapati harus memohon restu kepada Sunan Giri melalui surat. Hal ini dilakukan karena beberapa tahun sebelum Panembahan Senopati bertahta sebagai raja, almarhum ayah Panembahan Senapati-Ki Ageng Mataram mendapat fatwa dari Sunan Giri yang menyatakan kekal kerajaan Mataram-lah yang menguasai Jawa.Maka diutuslah gandhek ke pertapaan Sunan Giri.

Pada saat itu, sunan Giri sedang dihadapi oleh para santri di serambi,di dekat kolam.Busana para santri serta putih,begitu pula Sunan Giripun berjubah putih dan berkorban putih dengan pusakanya keris Kalamunyeng. Duta dari  Mataram datang  menyampaikan surat  ber -lak merah dari  Panembahan  Senapati kepada  Sunan Giri,kelak  1 Sura hari Jumat  adalah saat  yang tepat bagi Panembahan  Senapati  mengawali  perjalanan  untuk  mengembangkan  ke daerah  Jawa Timur.

Adegan ke 2 : Awal  Keberangatan. Hari yang dinanti  tiba Jumat 1 Sura, saat keberagkatanpasukan  Mataram ke Jawa Tiimur ,Tetabuhan  pengirig  menandai  keberangkatan.Meski  demikian gerak mereka sangat  berhati hati dan berusaha  agar  tidak terpancing  memulai  pertempuran. Di perjalanan,   mereka beristirahat di sebelah  barat sungai  Dhadhung, membuat  pesanggrahan  tempat bermalam  beberapa. Di tempat itu, merrka  memagari pesanggrahan  dengan  pagar  dari bambu  berduri  (rangkah)  mengelilingi   pesanggrahan.Pesanggrahan dijaga oleh para prajuritnya secara bergilir.

Adegan  ke 3 :  Taktik  Senapati: Panembahan  Senapati  mendapat laporan  tentang  putri  Raja  Madiu-Retna  Dumilah  yang  jelita.Muncul  keinginannya untuk  mempersunting  Sang Putri. Harapan  itu disampaikan  kepada Ki Juru  Martani penasehatnya, maka  Panembahan Senapati  berencana  mengirim  utusan  untuk menyampaikan surat kepada Raja Madiun. Adapun  isi  surat menyatakan  bahwa Mataram tunduk  terhadap  Raja Madiun.Melalui  pernyataan  takluk itu,  dimungkinkan Raja Madiun  dan para  raja  di Jawa Timur menjadi  berkurang kewaspadaannya. Panembahan  Senapati  akan mengutus  Adisari  sebagai duta  ke Madiun bersama pengiringnya.

Adegan ke-4 : Mantram  Senapati bagi  Sang Duta. Di tengah  gegap  gempita  derap  langkah  pasukan  menggetarkan  bumi Jawa  Timur, tak tampak  oleh mata  adanya   kekuatan  yang sejati, yakni  rasa kasih. Adisari  bukanlah seorang  prajurit,bukan Panglima , namun  karena  saking cintanya yang ikhlas ,upaya  Panembahan Senapati  menuju  tanah  Madiun pun menjadi  terang.

Adisari melangkah   pasti.  Ia bukan sekadar membawa  pesan  namun  juga  kepercayaan, memandang  nama  Panembahan Senapati dalam setiap  degup  nadinya. Doa  Panembahan Senapati  mengalir   dalam  darahnya   menjadi  lentera  penuntun  gerak  kakinya. Ketulusan  telah  menguatkan  punggungnya   dan kemantapan  hati  menjadi  sayap  tak  kasat  mata  yang membuat  tak  merasa lelah. Ia tahu   setiap langkah yang  diukirnya di tanah  perjanjian, ada restu  yang menjelma  angin  lembut. Maka  berangkatlah Adisari  menuju  Madiun.

Adegan  ke 5  : Langkah  Adisari Menuju  Madiun.- Dilukiskan tentang Adisari  beserta  pengiringnya, setibanya  di barat  Madiun, semua  orang  yang menyaksikan  rombongan dari  Mataram terkagum kagum pada kecantikan  dan wibawa   Adisari. Dari  kasak kusuk  mereka  yang berderet  di pinggir jalan, tersebar berita  bahwa  misi  Adisari ke  Madiun  adalah mewujudkan  bukti  takluk  Panembahan  Senapati pada raja  Madiun.Oleh sebab  itu seluruh  prajurit Madiun bersuka ria  dan  semakin percaya, bahwa  nyali  Raja  Mataram kecil .

Adegan ke-6:  Dumilah  Menerima  Takdir Cinta.Retna Dumilah menyadari  bahwa  Panembahan Senapati  akan  datang  dengan segala  kuasanya,  yang tak tertolak ,dengan  tatap   yang  bisa  merenggutnya  dari istana  yang masih   menyimpan   aroma  pelukan  ibu. Raja Madiun  orangtua  Retna Dumilah  telah meninggalkann  istana  dengan  menyerahkan  keris  pusaka  ” Ki  Gumarang ” kepada  putrinya.Jika  keris  itu meski  telah ditusukan  ke  Panembahan Senapati  namun  tidak dapat  melukainya ,maka jelas bahwa  lelaki itu  adalah  calon  suami  Retna Dumilah. Kehadiran  Adisari mengringi Panembahan Senapati  menumbuhkan   harapan  yang tersisa ,karena  Adisarilah  satu satunya  orang  yang ia   kenal. Dalam  pandangannya  yang berlinang terpancar  harap  yang tulus  bahwa  Adisari bisa  menjadi tembok penahan  gemuruh  kegelisahannya,  Adisari  berhasil menenangkan  gejolak  jiwa  Dumilah lalu  meninggalkannya berdua  dengan  Panembahan   Senapati.

Tangan  Dumilah masih menggenggam  keris  pusaka peninggalan ayahandanya , lambang   kehormatan  dan perlindungan.Ia  telah  mengayunkannya , bukan  dengan  benci, tetapi  dengan  harap  bahwa bilah  itu  akan menjadi saksi  tentang dirinya  yang tidak  menyerah begitu saja.Namun bilah  itu tak  mampu menembus  kulit  Senapati.

Perlahan keris  itu disematkan  oleh Senapati dari  tangan  Dumilah. Dan sebuah  kesadaran   tumbuh  di hati Dumilah, bahwa  penyerahan  dirinya bukan  sebagai  kekalahan  melainkan pemahaman  bahwa  ada kekuatan  yang tak bisa  dilawan dengan senjata,hanya  bisa diterima  dengan jiwa  yang  tenang Retno Dumilah  telah memilih  untuk berjalan  bersama  takdir,  bukan    melawannya. Diboyong ke Mataram  bukan lagi sebuah kehinanan melainkan  jawaban  dari semesta  bahwa  ia menjadi  bagian  dari sejarah.(*)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini