RADAR NASIONAL ,–Tiga puluh tujuh tahun mengajar di Universitas Gadjah Mada, setelah purna tugas saya memilih “mendita” di Pakualaman untuk melihat lagi, setiap minggu 2- 3 kali menengok diantara jam mengajar kesini lalu kembali ke UGM sehingga kurang konsentrasi.
” Demikian disampaikan Dr. Sri Ratna Saktimulya, saat dijumpai sejumlah awak media setelah purna tugas akan lebih konsentrasi sebagai abdi dalem yang mengurus keberadaan manuskrip kuno lebih fokus mengabdi sebagai abdi dalem di Puro Pakualaman.
Dalam pelepasan kepurnaan,Saktimulya mempersembahkan karya Drama Tari berjudul Adisari: Cahaya Kasih di Balik Penaklukan.Kisah Adisari diambil dari manuskrip kuno berjudul Babad Mentawis yang ditulis pada masa Paku Alam I(1812-1829) September 1815, di ndalem Suryaningratan, Pakualaman Yogyakarta.

Atas prakarsa Paku Alam II(bertahan 1830-1858) teks disalin, diperkuat dengan menghadirkan aneka gambar pemertinggi kesan atas halaman naskah yang dikenal sebagai ilustrasi,ditorehkan dalam pola wedana renggan,wedana gapura renggan, rerenggan, pepadan dan rubrikasi.
Upaya penyelamatan dan penyebarluasan isi naskah kuno dengan mengalihaksarakan dari huruf Jawa ke huruf latin, dan mengalihbahasakan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, adalah dengan melakukan alih wahana.Atas prakarsa KGPAA Paku Alam X dan permaisuri,teks dan iluminasi pada naskah kuno skriptorium Pakualaman telah dialih wahanakan ke motif batik dan fragmen tari.
Pada kesempatan ini,atas izin KGPAA Paku Alam X,Program Studi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa,Fakultas Ilmu Budaya, UGM akan menyajikan alih wahana manuskrip kuno ke bentuk seni pertunjukan dengan mengangkat kisah Putri Adisari berdasarkan hasil kajian Saktimulya.
Sinopsis: Dalam upayanya memperluas kekuasaan ke wilayah Jawa Timur,sesuai fatwa Sunan Giri, Panembahan Senopati beserta pasukannya berangkat 1 Sura,hari Jumat.Di tengah perjalanan tekad penyerbuan berubah saat ia mendengar kabar tentang Retna Dumilah putri raja Madiun yang cantik gemulai memikat hati Senopati jatuh cinta namun terselenggara dilema antara ambisi politik dan gejolak rasa. Adisari kekasih Senopati yang setia dan berhati luhur menjadi kunci penyelesaian.
Ia rela mengesampingkan perasaannya,diutus sebagai duta damai.Dengan kelembutan dan ketulusannya, Adisari berhasil menyentuh hati raja Madiun dan Retna Dumilah,meyakinkan cinta dan perdamaian lebih mulia daripada peperangan.Retna Dumilah pun bersedia menjadi permaisuri Senopati, Adisari tidak hanya menyatukan dua kerajaan tetapi juga menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu harus memiliki justru dengan merelakan.
Drama Tari ini memvisialisasi teks Babad Metawis,yang terakumulasi dalam kolom renggan bagian latar ditandai dengan gambar bendera, umbul-umbul, rontek, tombak, pedang, kendang, dan kumpul,mewakili kisah Panembahan Senopati beserta pasukannya ketika berperang untuk meluaskan wilayah ke Jawa Timur.
Drama Tari Adisari terdiri 6 babak yakni Babak I “1 Sura Tanda Langit dan Jalan Senopati”.
Adegan ke-1 : Restu Sunan Giri. Diawali dengan upaya Panembahan Senapati memohon restu kepada Sunan Giri, berdasarkan pembicaraan dengan Ki Juru Martani diputuskan bahwa Panembahan Senapati harus memohon restu kepada Sunan Giri melalui surat. Hal ini dilakukan karena beberapa tahun sebelum Panembahan Senopati bertahta sebagai raja, almarhum ayah Panembahan Senapati-Ki Ageng Mataram mendapat fatwa dari Sunan Giri yang menyatakan kekal kerajaan Mataram-lah yang menguasai Jawa.Maka diutuslah gandhek ke pertapaan Sunan Giri.
Pada saat itu, sunan Giri sedang dihadapi oleh para santri di serambi,di dekat kolam.Busana para santri serta putih,begitu pula Sunan Giripun berjubah putih dan berkorban putih dengan pusakanya keris Kalamunyeng. Duta dari Mataram datang menyampaikan surat ber -lak merah dari Panembahan Senapati kepada Sunan Giri,kelak 1 Sura hari Jumat adalah saat yang tepat bagi Panembahan Senapati mengawali perjalanan untuk mengembangkan ke daerah Jawa Timur.
Adegan ke 2 : Awal Keberangatan. Hari yang dinanti tiba Jumat 1 Sura, saat keberagkatanpasukan Mataram ke Jawa Tiimur ,Tetabuhan pengirig menandai keberangkatan.Meski demikian gerak mereka sangat berhati hati dan berusaha agar tidak terpancing memulai pertempuran. Di perjalanan, mereka beristirahat di sebelah barat sungai Dhadhung, membuat pesanggrahan tempat bermalam beberapa. Di tempat itu, merrka memagari pesanggrahan dengan pagar dari bambu berduri (rangkah) mengelilingi pesanggrahan.Pesanggrahan dijaga oleh para prajuritnya secara bergilir.
Adegan ke 3 : Taktik Senapati: Panembahan Senapati mendapat laporan tentang putri Raja Madiu-Retna Dumilah yang jelita.Muncul keinginannya untuk mempersunting Sang Putri. Harapan itu disampaikan kepada Ki Juru Martani penasehatnya, maka Panembahan Senapati berencana mengirim utusan untuk menyampaikan surat kepada Raja Madiun. Adapun isi surat menyatakan bahwa Mataram tunduk terhadap Raja Madiun.Melalui pernyataan takluk itu, dimungkinkan Raja Madiun dan para raja di Jawa Timur menjadi berkurang kewaspadaannya. Panembahan Senapati akan mengutus Adisari sebagai duta ke Madiun bersama pengiringnya.
Adegan ke-4 : Mantram Senapati bagi Sang Duta. Di tengah gegap gempita derap langkah pasukan menggetarkan bumi Jawa Timur, tak tampak oleh mata adanya kekuatan yang sejati, yakni rasa kasih. Adisari bukanlah seorang prajurit,bukan Panglima , namun karena saking cintanya yang ikhlas ,upaya Panembahan Senapati menuju tanah Madiun pun menjadi terang.
Adisari melangkah pasti. Ia bukan sekadar membawa pesan namun juga kepercayaan, memandang nama Panembahan Senapati dalam setiap degup nadinya. Doa Panembahan Senapati mengalir dalam darahnya menjadi lentera penuntun gerak kakinya. Ketulusan telah menguatkan punggungnya dan kemantapan hati menjadi sayap tak kasat mata yang membuat tak merasa lelah. Ia tahu setiap langkah yang diukirnya di tanah perjanjian, ada restu yang menjelma angin lembut. Maka berangkatlah Adisari menuju Madiun.
Adegan ke 5 : Langkah Adisari Menuju Madiun.- Dilukiskan tentang Adisari beserta pengiringnya, setibanya di barat Madiun, semua orang yang menyaksikan rombongan dari Mataram terkagum kagum pada kecantikan dan wibawa Adisari. Dari kasak kusuk mereka yang berderet di pinggir jalan, tersebar berita bahwa misi Adisari ke Madiun adalah mewujudkan bukti takluk Panembahan Senapati pada raja Madiun.Oleh sebab itu seluruh prajurit Madiun bersuka ria dan semakin percaya, bahwa nyali Raja Mataram kecil .
Adegan ke-6: Dumilah Menerima Takdir Cinta.Retna Dumilah menyadari bahwa Panembahan Senapati akan datang dengan segala kuasanya, yang tak tertolak ,dengan tatap yang bisa merenggutnya dari istana yang masih menyimpan aroma pelukan ibu. Raja Madiun orangtua Retna Dumilah telah meninggalkann istana dengan menyerahkan keris pusaka ” Ki Gumarang ” kepada putrinya.Jika keris itu meski telah ditusukan ke Panembahan Senapati namun tidak dapat melukainya ,maka jelas bahwa lelaki itu adalah calon suami Retna Dumilah. Kehadiran Adisari mengringi Panembahan Senapati menumbuhkan harapan yang tersisa ,karena Adisarilah satu satunya orang yang ia kenal. Dalam pandangannya yang berlinang terpancar harap yang tulus bahwa Adisari bisa menjadi tembok penahan gemuruh kegelisahannya, Adisari berhasil menenangkan gejolak jiwa Dumilah lalu meninggalkannya berdua dengan Panembahan Senapati.
Tangan Dumilah masih menggenggam keris pusaka peninggalan ayahandanya , lambang kehormatan dan perlindungan.Ia telah mengayunkannya , bukan dengan benci, tetapi dengan harap bahwa bilah itu akan menjadi saksi tentang dirinya yang tidak menyerah begitu saja.Namun bilah itu tak mampu menembus kulit Senapati.
Perlahan keris itu disematkan oleh Senapati dari tangan Dumilah. Dan sebuah kesadaran tumbuh di hati Dumilah, bahwa penyerahan dirinya bukan sebagai kekalahan melainkan pemahaman bahwa ada kekuatan yang tak bisa dilawan dengan senjata,hanya bisa diterima dengan jiwa yang tenang Retno Dumilah telah memilih untuk berjalan bersama takdir, bukan melawannya. Diboyong ke Mataram bukan lagi sebuah kehinanan melainkan jawaban dari semesta bahwa ia menjadi bagian dari sejarah.(*)





