Dialog Budaya : Larad Akar Perbuatan Buruk Manusia dalam Perspektif Sestra Ageng Adidarma

0
218
Nyi Mas Tumenggung Sestrorukmi (Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum) dalam dialog budaya bertema "Manuskrip Sestra Ageng Adidarama" di Kagungan Dalem Bangsal Kepatihan Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta Jumat (24/10) / Foto: Istimewa

RADARNASIONAL – (Yogyakarta) – Sestradi merupakan ajaran olah rasa melalui sarana nyata untuk berkontemplasi sehingga pada akhirnya pemahaman tentang makna hidup.

Hal demikian disampaikan Nyi Mas Tumenggung Sestrorukmi (Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum) dalam dialog budaya bertema “Manuskrip Sestra Ageng Adidarama” di Kagungan Dalem Bangsal Kepatihan Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta Jumat (24/10).

Sestradi merupakan konsep bersistem berupa 21 butir watak baik dan 21 butir watak buruk. Berdasarkan konsep bersistem sestradi dapat dikatakan sebagai cara pandang untuk sesuatu atau kelangsungan hidup bagi generasi penerus.

Dengan demikian dapat disebut sebagai ideologi Pakualaman yang men jiwa berbagai aspek kehidupan dan melembaga dalam kesusastràan kesenian, kepemimpinan dsb. Khusus dibidang kesusastraan, ideologi sestrodi muncul pada teks dalam manuskrip.

Analog Pohon untuk Karakter.

a. Akar : Mewakili fondasi karakter meliputi prinsip hidup,keyakinan dan pengalaman dasar yang menanamkan landasan kuat dalam diri seseorang.

Fungsi akar menegakkan tumbuhan pada tempat tumbuhnya serta tempat menyimpan cadangan makanan.

b. Batang, Struktur utama karakter merupakan sifat dasar yang terlihat dari luar.Batang menjadi penopang seluruh bagian karakter yang menghubungkan akar dengan cabangnya.

c. Dahan dan cabang, merupakan manifestasi karakter yang lebih spesifik dan berkembang. Dahan ini bisa bergabung lagi menjadi ranting yang lebih kecil.

d. Daun dan buah : Daun dan buah mewakili hasil nyata dari karakter seperti reputasi hubungan sosial dan dampak yang seseorang berikan pada lingkungan.

“Dengan menggunakan analogi pohon dapat dilihat bahwa karakter bukan sesuatu yang muncul tiba tiba tetapi tumbuh dan berkembang dari pondasi ajar dan terbentuk menjadi berbagai sifat dan perilaku (batang dan cabang) yang akhirnya menghasilkan dampak nyata” ungkapnya.

Menurut Ki Hadjar Dewantara karakter adalah paduan dari tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda khusus yang membedakan orang satu dengan yang lain.

Dongeng tentang Watak Dasar Kucing. Empat bait teks bermetrum sinom pada naskah Sestra Ageng Adidarma (h.194) dinyatakan oleh Rahmat (2020) sbb Teks mengungkapkan tentang kekuatan watak dasar dibandingkan dengan kekuatan berlatih.

Hal ini menjadi perdebatan antara Patih dengan para rajanya.Menurut pendapat raja , hasil berlatih akan mampu mengalahkan watak dasar. Untuk membuktikannya, raja mengeluarkan kucing yang telah dilatih.

Namun, ketika kucing melihat seekor tikus dihadapannya si kucing segera menubruk dan memangsanya. Disimpulkan bahwa watak dasar merupakan bawaan dari lahir, sementara itu kuasa berlatih adalah sebagai ikhtiar.

MW Widyohandoyo (Dr. Rahmat, S.S., M.A) dalam dialog budaya bertema “Manuskrip Sestra Ageng Adidarama” /Foto: Ist

Makna dan Pesan Moral :

1.Watak dasar lebih kuat daripada sekedar latihan atau tampil luar. Seseorang bisa diajari sopan santun namun jika karakter hatinya tidak berubah, maka dalam kondisi tertentu atau tergoda ,watak aslinya akan muncul.

2.Karakter sejati tumbuh dari dalam, bukan hanya dari kebiasaan luar. Latihan hanya efektif jika diiringi dengan internalisasi nilai.

3.Pembentukan karakter harus menyentuh “akar ” bukan hanya “daun”. Melatih seseorang hanya pada tingkah laku luar (daun) tanpa membentuk keyakinan prinsip dan nilai (akar) akan menghasilkan karakter yang rapuh mudah goyang dan rusak.

4.Kaitannya dengan pendidikan karakter.Pendidikan karakter bukan hanya soal melatih perilaku, namun juga menanamkan nilai-nilai dasar.Hal ini butuh waktu dan keteladanan. Perlu perhatian lingkungan, Seekor kucing tetap kucing karena ia tetap berada dalam lingkungan yang mendukung tindak korupsi, kekerasan, penipuan dsb maka karakter baik yang belum kuat bisa runtuh.

Sementara itu dalam paparannya MW Widyohandoyo (Dr. Rahmat, S.S., M.A) yang tampil dalam paparannya, naskah Sèstra Agèng Adidarma yang berukuran besar dengan ukuran 42×27 cm, dengan jumlah 346 halaman dengan rata-rata tulisan 19 baris tiap halaman. Huruf tulisan aksara Jawa dan berbahasa Jawa dengan jumlah kosakata serapan dari bahasa Arab dan Belanda.

Hampir seluruh halaman berisi tulisan disertai dengan rènggan, naskah ini ditulis Rabu Wage tanggal 7 April 1841 atau dasawarsa kedua kepemimpinan Paku Alam II.

Teks dalam naskah Sèstra Agèng Adidarma diantaranya mengenai nasehat untuk generasi muda agar senantiasa belajar, mengenai gelar perang, mengenai pandhawa lima, asthabrata, sifat raja dan punggawa perlambang mengenai manusia dan sejumlah teks.

Teks dongeng tentang raja adalah teks Kèmit Papat lan Raja Prayitna, Prabangkara, Raja Ngadil Suryaning Alam dab dan Wesi Pinangan Rayap. Kategori ini mengisahkan tentang raja yang waspada dan raja yang lengah.(San)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini