Bedah dan Sarasehan Jejak Sejarah, Buku Toponim Padukuhan Terbitan Kundha Kabudayan

0
221
Momen baca buku Toponim asal usul Padukuhan Kabupaten Sleman berlangsung di rumah Budaya Berkeyogyaan mendapat perhatian masyarakat pecina seni dan budaya. Radnas/Ist

 

RADARNASIONAL – Perkumpulan Seni  Srandhoel  Raos Ngayogyan menggelar baca buku  Toponim seri 1,2 dan  karya  Agus  Bakti Sedjatiawan yang  diterbitkan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman (Kunda Kabudayan Sleman) berlangsung di rumahdi Rumah Budaya Berkeyogyaan, Sendangadi, Mlati. Jumat (10/1/2025).

Acara ini digelar sebagai upaya untuk memperkenalkan lebih jauh  kepada masyarakat sejarah asal-usul terbentuknya padukuhan di Kabupaten Sleman.

Dalam acara tersebut, teks toponimi dibacakan oleh Beni Kusumawan, seorang aktor sekaligus wartawan dan penulis naskah sandiwara.

Ia membacakan teks dari Toponimi Seri 1 yang mengisahkan terbentuknya Padukuhan Mancasan, Ambarketawang, Gamping.

Pembacaan dilanjutkan oleh Dany Kencana Putra yang membacakan teks dari Toponimi Seri 2 tentang asal-usul Padukuhan Beteng, Tridadi, Sleman, serta teks dari Toponimi Seri 3 mengenai sejarah Padukuhan Mlati Krajan, Sendangadi, Mlati.

Harjuna PH, pemilik Rumah Budaya Berkeyogyaan, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa acara ini bertujuan untuk lebih membumikan pengetahuan tentang toponimi padukuhan di Sleman.

“Kami ingin masyarakat semakin mengenal asal-usul padukuhan tempat mereka tinggal. Banyak kisah, mitos, dan kronologi sejarah yang menarik di balik nama-nama padukuhan ini. Pengetahuan ini penting untuk melestarikan budaya lokal,” ujar Harjuna PH.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh anggota komunitas seni Srandhoel Raos Ngayogyan, tokoh masyarakat, warga sekitar, serta khalayak umum.

Setelah sesi pembacaan teks, acara dilanjutkan dengan sarasehan dan diskusi yang membahas lebih dalam sejarah dan budaya padukuhan di Kabupaten Sleman.

Para peserta tampak antusias mengikuti diskusi yang membahas berbagai mitos dan kisah menarik di balik nama padukuhan di Sleman.

Salah seorang tokoh  masyarakat Asihan sekaligus  sesepuh bergada  Watu Sabuk Padukuhan Nganti  Sendangadi berharap  agar acara ini digelar secara  berkala agar generasi muda  tidak kehiangan jejak sejarah  terbentuknya padukuhan.

Acara ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan sejarah dan budaya lokal agar tidak hilang oleh arus modernisasi. (sani)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini