Dakwah Wayang Ustadz A.T Maulana,Merawat Budaya Tradisi Penyampai Informasi

0
9
Dakwah Wayang Ustadz A.T Maulana memukau jamaah tampil di Joglo Cepit Condongcatur.

RADAR NASIONAL,- (Sleman),- Lebih dari 350 jamaah memadati lokasi kediaman Lurah Condongcatur yang rutin diadakan Pengajian Malam Kamis Kliwonan yang digelar oleh Reno Candra Centre (RCC) di Pendopo Cepit, Condongcatur Depok,Sleman Rabu malam, (22/4/2026)

Suasana malam itu khidmat,masyarakat antusias mengikuti rangkaian acara yang memadukan spiritualitas, kritik sosial, dan pelestarian budaya.

Pengajian malam kamis Kliwonan telah rutin digelar sejak tahun 2015 saat setelah Bapak Reno Candra Sangaji terpilih dan menjabat sebagai Lurah Condongcatur dan pengajian hingga kini tetap berjalan,sekalipun hujan tak mengurangi semangat untuk hadir dan berlangsung rutin sampai sekarang.

Pengajian Malam kamis Kliwon sejak dahulu sampai sekarang mempunyai format yaitu diawali dengan sambutan lurah Condongcatur yang menyampaikan informasi informasi dan program kegiatan yang tengah dan akan dilakukan pemerintah Kalurahan maupun pesan sosial sehingga ada komunikasi langsung kepada masyarakat kepada masyarakat / jamaah pengajian, selanjutnya diisi dengan Mujahadah yang dipimpin langsung oleh Mbah Kyai Muhammad Naim dari Selomartani Kalasan Sleman dan secara bergilir Grub – Grub Hadroh yang ada di Condongcatur tampil pada pengajian rutin.

Lantunan doa dan dzikir yang menggema menciptakan atmosfer yang tenang, mempersiapkan batin para jamaah sebelum memasuki sesi inti.

Selanjutnya pengajian dengan menghadirkan para penceramah yang berganti ganti sesuai tema, kali ini Ustad A.T Maulana atau dikenal Dai Patroli tampil menggunakan perfoma wayang sebagai penyampaian pesan moral, kritik sosial, sosial,spiritual religi keagamaan maupun budaya.

Strategi ini terbukti ampuh dan mampu menarik simpati jamaah dari berbagai kalangan usia.Dalam penampilan media dakwah melalui wayang Ustadz A.T Maulana menyelipkan kritik sosial yang tajam namun jenaka mengenai isu-isu hangat di masyarakat, seperti mulai dari Bahaya peredaran miras dan judi yang merusak moral generasi muda sampai Pentingnya pertobatan yang digambarkan melalui tokoh-tokoh yang berlumur dosa,, namun akhirnya menemukan jalan pulang melalui contoh-contoh nyata di kehidupan sehari-hari.

“Dakwah melalui media wayang ini adalah upaya kita mendekatkan agama dengan budaya. Melalui lakon-lakon ini, kita belajar bahwa masalah sosial seperti judi dan miras bukan hanya tanggung jawab aparat, tapi tanggung jawab iman kita masing-masing,” ujar Ustadz Ahmad Tugiran Maulana di sela-sela pertunjukannya.

Pengajian malam kamis Kliwon juga merupakan bentuk sinergi budaya dan agama, kehadiran grup Hadroh Nuruttajdid dari Tegalturi Karangasem Gempol menambah kemeriahan pengajian malam kamis Kliwon. Dengan lantunan sholawat yang rancak dan di dukung penuh dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari BANSER Condongcatur yang menjaga kenyamanan jamaah juga Remais Masjid Antik Soko 7 hingga GARFA Kap. Depok

” Di Condongcatur ada 40 lebih grub Hadroh yang kita gilir tampil pada setiap pengajian malam kamis Kliwonan juga Remais / Muda Mudi untuk bertugas menghidangkan snack dan minumnya, untuk pemilihan hari malam kamis Kliwon sesuai dengan tanggal neton lahir kami” jelas Reno Candra Sangaji

Tausiyah malam ini dengan Penggunaan wayang sebagai media dakwah ini diharapkan menjadi role model baru dalam menyelesaikan masalah sosial di masyarakat.

Dengan bahasa yang ringan dan visual yang akrab di telinga masyarakat Jawa, pesan-pesan agama menjadi lebih mudah meresap tanpa terkesan menggurui, walaupun baru berakhir menjelang tengah malam jam 23.30 WIB jamaah tetap menyimak dengan baik dan tausiyah kali ini meninggalkan kesan mendalam bagi para jamaah tentang pentingnya menjaga nilai agama di tengah gempuran penyakit sosial modern.(san)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini