
RADARNASIONAL – Orang tamansiswa yang bekerja di lingkungan tamansiswa, seharusnya benar benar tahu ketamansiswaan, bukan sebaliknya orang bukan tamansiswa justru lebih tahu ketamansiswaan daripada orang tamansiswa. Ini namanya terbalik.
Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D dalam Sarasehan Centre Of Exelent bersama BRIN di ruang Senat Kampus Pusat UST Yogyakarta, Rabu (3/7/2024).
Sarasehan digelar Fakultas Teknik bersama BRIN dalam rangka memperingati HUT Tamansiswa ke 102 tahun.
Pardimin berharap dengan digelarnya sarasehan ini menghasilkan output pemikiran usulan ke pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Ristek untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.
Berbicara tentang pendidikan tidak bisa lepas dari peran Ki Hajar Dewantara dimana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dijabat Ki Hajar Dewantara.

Menurutnya, setelah memahami dan mengerti kita berharap harus ada output, apa yang harus dilakukan yang penting kita usulkan terlebih dulu, kita jangan memikirkan tidak ditindaklanjuti kalau kita sudah berpikir seperti itu kapan ada kemajuan, ide harus kita lahirkan dulu, masalah tidak diakomodir bukan urusan kita.
“Tamansiswa sudah mengingatkan berkali kali sudah membuat proposal usulan ke Kementerian dan minimum itu saja, sudah tidak berdosa kalau benar-benar terjerumus Tamansiswa sudah mengingatkan. Meski diakui untuk membenahi di ranah pendidikan memang kalau tidak ada yang masuk ke dalam sistem berat.”ujarnya.
Terkait sarasehan yang digelar, Rektor mengapresiasi dan mendukung, akan lebih sedih kalau sarasehan diadakan di luar Tamansiswa dan merasa senang sarasehan di dalam kampus.
Rektor berharap sarasehan ini dapat menghasilkan masukan ke pemerintah. Harapannya, kepada generasi muda bagaimanapun ajaran Ki Hajar Dewantara tetap relevan dan terus ditanamkan di kalangan generasi muda.(Sani)




