RADAR.NASIONAL,-(Yogyakarta).Dasa Darma merupakan kode kehormatan yang bertujuan membentuk kepribadian yang luhur, mandiri, dan berguna bagi masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan Kak Prijo Mustika,terkait masih dalam suasana memperingati hari Bapak Pramuka yang beberapa hari diperingati.
“Kak Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah sosok suri tauladan bagi kita semua,dari pemikiran yang cerdas dan bersahaja,sosok Kak Sri Sultan HB IX kesepuluh 10 darma Pramuka benar benar ada didalamnya,artinya dasa darma itu ada dalam diri beliau secara total “ungkapnya.
Menurutnya, seperti di contohkan keteladanan kak Sultan dari kesepuluh darma adalah, Darma kesatu : Kak Sultan sebagai Raja Kasultanan Yogyakarta sebagai Sayyidina Panatagama, yakni Pemimpin Agama. Darma kelima, kak Sultan menolong bakul beras tidak mau menerima upah dari bakulnya.(dibayar)
Darma kesepuluh, kak Sultan sedikit bicara tapi banyak kerja dan karyanya, seperti semboyan dari kraton Yogyakarta yakni, nyawiji, greget, sengguh ora mingkuh, artinya dalam berperilaku seorang pemimpin harus fokus menyatu dalam mencapai tujuan, selalu semangat dan tidak boleh ingkar dalam janjinya.
Keteladan Kak Sultan perlu dicamkan dan diterapkan dalam kehidupan kalangan Pramuka.
.Berikut Dasa Dharma Pramuka selengkapnya sbb:
1.Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.3. Patriot yang sopan dan kesatria.4. Patuh dan suka bermusyawarah.5. Rela menolong dan tabah.6. Rajin, terampil, dan gembira.7. Hemat, cermat, dan bersahaja.8. Disiplin, berani, dan setia.9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya. 10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Pokok-pokok yang biasanya beliau tekankan soal teladan HB IX, artinya Kepemimpinan yang melayani, HB IX turun langsung ke rakyat saat Serangan Umum 1 Maret 1949.
Kak Prijo Mustiko sering mencontohkan bahwa pemimpin Pramuka harus sepi ing pamrih rame ing gawe kerja nyata tanpa cari nama.
– Sistem Among dalam Pramuka ,: Beliau mengaitkan Tut Wuri Handayani dengan peran pembina. Pemimpin bukan bos, tapi pengasuh yang mendorong dari belakang. Integritas dan nasionalisme : HB IX merelakan kasultanan gabung RI. Nilai ini yang Prijo Mustiko dorong ke pandega: pemimpin harus utamakan kepentingan bangsa di atas pribadi.(*)





