
RADAR NASIONAL,- (Sleman),–Di tengah ancaman krisis air, Komunitas Banyu Bening hadir memberi secercah harapan bagi akar rumput, betapa tidak Komunitas Banyu Bening yang berdiri 10 tahun lebih tetap konsisten menjaga ekosistem,menjaga lingkungan dengan memanfaatkan air hujan, menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat.
Gerakan sederhana, dari akar rumput ini mengundang simpati Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY GKR Bendara melalui gelar Kenduri Banyu Udan X Ngopi (Ngobrol Inspirasi)Bareng di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sleman, Selasa (9/9/2025).
GKR Bendara mewakili GKR Ratu Hemas mengapresiasi dan menegaskan pentingnya mengelola air secara bijak di tengah eksploitasi air tanah yang kian mengkhawatirkan.
“Air adalah sumber kehidupan. Tanpa kesadaran menjaga, kita sedang mewariskan krisis pada generasi mendatang,” ungkapnya.

Lebih jauh GKR Bendara, mengaitkan dengan filosofi Jawa: Hamemayu Hayuning Bawana (menjaga kelestarian alam), Manunggaling Kawula Gusti (kesadaran spiritual menjaga ciptaan Tuhan), serta Sangkan Paraning Dumadi (kesadaran bahwa manusia berasal dan kembali kepada alam).
“Merawat air dan bumi bukan hanya kebutuhan praktis, tapi ibadah sosial dan wujud syukur kita,” ujarnya.
Komunitas Banyu Bening bukti masyarakat bisa mandiri menjaga ketahanan pangan dan kedaulatan air. Air hujan yang biasanya terbuang justru diproses menjadi air minum gratis, menegaskan nilai kebersamaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada air tanah. “Gerakan seperti ini patut direplikasi di wilayah lain, apalagi di Yogyakarta yang dikenal sebagai tanah budaya dan peradaban,” tuturnya.
Sri Wahyuningsih, pendiri Sekolah Air Hujan, menyatakan rasa syukur atas dukungan Kraton Yogyakarta.Perjalanan 10 tahun Banyu Bening adalah bukti nyata,komunitas mampu berkontribusi mewujudkan kedaulatan air. “Air hujan adalah rahmat. Dengan mengelolanya, kita menjaga masa depan anak cucu kita,” katanya.
Acara Kenduri Banyu Udan bukan hanya perayaan, tetapi refleksi dan ajakan: bahwa bumi ini bukan milik kita semata, melainkan titipan untuk diwariskan dalam keadaan lestari. Dari Banyu Bening, Sleman, pesan itu mengalir deras—bahwa gerakan kecil dapat membawa arus perubahan besar.(San)




