Diduga Seorang Siswi Baru Dipaksa Berhijab, Ini Bantahan Kepsek SMAN 1 Banguntapan

0
146
SMA Negeri 1 Banguntapan Foto: Tempo.co

YOGYAKARTA – Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul, Agung Istianto akhirnya angkat bicara terkait kasus dugaan seorang siswi baru yang dipaksa memakai jilbab di sekolah tersebut.

Agung membantah bahwa sekolahnya seperti yang dituduhkan pendamping siswi.

“Pada intinya sekolah kami tidak seperti yang ada di pemberitaan. Sekolah kami tetap tidak mewajibkan yang namanya jilbab,” kata Agung saat ditemui di Kantor Disdikpora DIY, Senin (1/8/2022).

Agung dan bersama beberapa rombongan dari SMA N 1 Banguntapan hari ini memenuhi panggilan dari Disdikpora DIY. Sebelumnya pada Jumat kemarin, Agung juga sudah dimintai keterangan oleh ORI DIY. Namun saat itu Agung enggan memberikan keterangan kepada wartawan.

“Tuduhannya salah. Wong nggak seperti itu masalahnya. Karena negeri kan, negeri nggak boleh mewajibkan jilbab,” katanya.

Agung sendiri tak menampik bahwa guru BK sempat memakaikan jilbab ke siswi tersebut. Namun, menurutnya hal itu hanya tutorial dan atas seizin siswi tersebut.

“Itu hanya tutorial, ketika ditanya siswanya belum pernah memakai jilbab dan dijawab nggak. Oh belum. Gimana kalau kita tutorial dijawab mantuk (mengangguk) iya,” katanya.

Setelah itu guru tersebut mengambilkan jilbab di ruangan tersebut dan memakaikannya. Agung mengatakan hal itu dilakukan hanya untuk mencontohkan.

“Artinya memang ada komunikasi antara guru BK dengan siswanya dan siswanya mengangguk boleh,” bebernya.

Dia mengeklaim bahwa tidak ada hal yang kasar yang dilakukan guru kepada siswi tersebut.

Saat ditanya soal informasi dari pendamping siswi tersebut bahwa muncul kata-kata tak pantas seperti kata-kata “orang tuamu nggak pernah salat ya” oleh guru BK, Agung mengatakan tidak ada hal seperti itu.

“Nggak. Mboten lah (tidak lah),” katanya.

“Misalnya pendidikan di sekolah kan ngeten meniko dari sedikit demi sedikit kalau kita membimbing dari sedikit sampai kalau misalnya siswanya tidak mau pun kami sekolah tidak mempermasalahkan,” katanya.

Soal penggunaan jilbab yang diajarkan guru BK, dia menegaskan bahwa hal itu hanya tutorial dan tidak harus diajarkan oleh guru agama.

“Karena ketika ditanya hanya tutorial. Kan tidak harus guru agama,” bebernya.

Di sisi lain, Agung mengatakan bahwa kebetulan siswi muslim yang ada di SMA-nya semua berjilbab.”Kebetulan nggih berjilbab semua siswi muslimnya,” katanya.

Di SMA tersebut, kegiatan belajar mengajar masih seperti biasanya. Hanya saja ketika wartawan datang untuk melakukan konfirmasi, satpam meminta awak media mengumpulkan KTP dan memotret identitas awak media.

Setelah beberapa lama menunggu, satpam mengkonfirmasi bahwa humas tidak bisa memberikan keterangan. Satpam juga menjelaskan bahwa keterangan dari sekolah satu pintu di kepala sekolah yang saat itu diketahui tengah berada di Disdikpora.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini