RADARNASIONAL -(Yogyakarta,),Dalam bahasa Jawa krama bucal buang adalah ubarampe sesaji pembuka wilujengan sebelum prosesi upacara adat dilakukan. Fungsinya untuk melepas energi negatif dan membuka jalan keselamatan.
Hal tersebut disampaikan Nyi Mas Tumenggung Sestrarukmi atau dikenal dengan Dr.Sri Ratna Saktimulya,M.Hum dihadapan peserta dialog budaya yang terdiri budayawan, pemerhati budaya,mahasiswa digelar di Kagungan Dalem Kadipaten Pakualaman,Ngayogyakarta Jumat malam (28/11/2025)
Menurutnya, upacara tradisi ritual yang diwariskan secara turun temurun dalam suatu masyarakat yang biasanya berkaitan dengan kepercayaan nilai moral penghormatan leluhur,siklus hidup dan siklus alam untuk terus menjaga keseimbangan manusia- alam- Tuhan.

Bucalan merupakan sesaji tolak bala yang disiapkan untuk diletakkan di beberapa tempat yang sudah ditentukamn antara lain 1.Tumpeng pancawarni yang berukuran kecil dengan warna merah hijau kuning putih dan hitam.2. Rujakan yang terdiri dari beberapa buah buahan seperti timun pepaya,kedondong,jambu pisang raja dan pulut.3.Bunga Sri.Taman yang terdiri dari pandan, gantal atau sirih yang atasnya diberi boreh.4. Empon-empon,uang receh dan rokok.5. Pencok yaitu daging giling mentah dibumbui santan kental cabe merah kenduri dan bawang putih yang dihaluskan. 6. Jenang abang putih dan baro- baro.
Tradisi Kuthamara : Kuthamara adalah upacara adat yang dilaksanakan setiap bulan Ruwah menurut perhitungan kalenderJawa.Pada kesempatan itu Paku Alam mengutus sejumlah sentana dan abdi dalem mengirim doa disertai kelengkapan sesaji ke Makam leluhur di Imogiri,Kotagedhe Girigondo,Sonyaragi dan lain lain.
Dinamakan Kuthamara karena pada zaman dahulu lokasi makam berada di desa. Ketika keluarga istana hendak berziarah ke pemakaman yang berada di pinggiran muncul istilah kutha ‘kota’ mara mendatangi ke desa.
Garebeg merupakan ungkapan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang dilaksanakan dan dilestarikan hingga saat ini oleh Kraton Ngayogyakarta maupun di Kadipaten Pakualaman. Pada setiap digelar upacara garebeg, Kraton Ngayogyakarta selalu membagikan hajat dalem berupa pareden(gunungan).
Dalam jangka waktu satu tahun penanggalan Jawa ada tiga kali upacara garebeg,yakni Mulud(tanggal 12 Mulud) garebeg Syawal (tanggal 1 Syawal ) dan garebeg Besar( tanggal 10 Besar).
Sedangkan,Heddy Shri Ahimsa-Putra dari Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM yang tampil sebagai narasumber Dialog Budaya,menuturkan upacara adat sudah menjadi kebiasaan atau pola laku yang diwariskan dari beberapa generasi ,upacara adat tidak harus selalu sama dengan upacara tradisi.
Upacara adat bisa merupakan upacara baru yang tidak berasal dari generasi sebelumnya yang belum diwariskan dari generasi ke generasi minimal 3 generasi.
P”Upacara tradisi bisa lebih lama atau sama usianya. dengan upacara adat.”ungkapnya.
Upacara adat di Pura Pakualaman upacara peringatan untuk Adipati diantaranya kelahiran, naik tahta.Upacara pembersih berupa bucalan,Labuhan.Upacara Peringatan Hari penting Islam yakni Garebeg.(san)





