RADAR NASIONAL,- (Yogyakarta),-Raden Temanggung Jayeng Irawan memahami hidup bukan sebagai sarana untuk menikmati anugerah,tetapi memahami hidup ini sebagai upaya menjadi pribadi yang lebih baik.Kebaikan yang dilakukan selama hidup pasti menghasilkan buah pahala yang diunduh di kemudian hari.
Demikian disampaikan Prof. Dr Yusro Edy Nugroho,M.Hum dari Universitas Negeri Semarang dalam Dialog Budaya Kadipaten Pakualaman Ngayogyakarta di Kagungan Dalem Kepatihan Pakualaman,Yogyakarta Jumat (15/8/2025).
Hadir dalam dialog budaya diantaranya budayawan , pemerhati budaya maupun masyarakat umum.

Menurutnya, manusia hidup hanya sekali maka jangan menjadi pribadi mendapatkan kehinaan,perkataan tersebut terkait dengan hasil dibikin yang diturunkan orangtuanya.Ketaatan kepada setiap pesan Paku Alam I yang selalu dilaksanakan dengan baik. Prinsip kejujuran dan ketaatan ini kemudian berealisasi dengan prinsip jangan sampai Manusia menjadi makhluk hina. Melihat fenomena kita bisa mengambil kesimpulan kejujuran dan kesetiaan adalah salah satu etika yang sangat dihargai.
Dengan menjadi pribadi yang jujur dan inilah setiap perkataan dan tindakan Jayeng Irawan menjadi teladan bagi keluarga Paku Alam kala itu. Hal itu kemudian ditekankan Paku Alam II kepada Jayeng Irawan kelahiran anak pertama diibaratkan seperti membangun lanjaran yang bagus.
Sedangkan Enjang Prasetyo Wening,S.S mengatakan Ajaran Piwulang Jayeng Irawan memuat nilai nilai etika, moral dan pembentukan karakter. Dalam ajaran tersebut,dijelaskan seseorang sebaiknya memiliki perlaku yang selaras dengan norma etika dan moral sebagai syarat untuk menjadi pribadi. Selain itu,piwulang ini juga menegaskan pentingnya memiliki dasar spiritual yang kuat sebagai jalan menuju keselamatan budi.
.”Piwulang ini juga banyak mengajarkan kesetiaan kepada pemimpin,oleh karena itu penerapannya saat ini tidak hanya ditujukan untuk kalangan bangsawan,tetapi masyarakat umum,termasuk para abdi,khususnya abdi dalem dan abdi negara dalam melaksanakan tugas sehari-hari.” tandas.
Raden Temanggung Jayeng Irawan,adalah seorang patih di Kadipaten Pakualaman yang menjabat pada kepemimpinan Paku Alam III,diketahui bahwa garis keturunan Jayeng Irawan berasal dari seorang pangeran Majapahit yang memilih hidup sebagai pengembara.Kakek bukunya pernah menjadi pengabdian seorang wali,sementara ayahnya merupakan abdi dalem di Kadipaten Pakualaman yang sangat dihormati dan disayang Kanjeng Gusti Paku Alam I.
Diceriterakan,Enjang Prasetya Wening, ayahnya Jayeng Irawan bernama Jayeng Taruna yang sejak kecil mengabdi di lingkungan Kadipaten Pakualaman.Ia berasal dari Muntilan,Magelang dan dibawa ke Pakualaman oleh Kanjeng Gusti Paku Alam I.Karena kesetiaan dan pengabdian Jayeng Taruna membuatnya sangat disayang oleh Paku Alam I. Kedekatan hubungan keduanya,terlihat dari berbagai hal ,mulai kesiapsiagaan Jayeng Taruna baik siang maupun malam ,hingga kepatuhannya dalam menjalankan perintah.
“Karena kedekatan ini, banyak aspek kehidupan Jayeng Taruna mendapat bantuan langsung dari Paku Alam I ,termasuk dalam urusan memilih jodoh,penyelenggara pernikahan, acara tingkeban hingga pernikahan anak anaknya.”pungkas Enjang.(San)





