
RADARNASIONAL – Dalam perjalanan sejarah kedua kerajaan dinasti Mataram yakni Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman mempunyai ciri khas sendiri sendiri, kraton Ngayogyakarta dengan budayanya yang bercorak Ngayogyakarta.
Hal tersebut disampaikan KRMT Pujokusumo dalam dialog budaya diikuti Karang Taruna, Duta Wisata, dan kalangan pemerhati budaya dan tokoh masyarakat.
Dialog budaya dengan tema : “Hamemayu Hayuning Bawana Penanaman Nilai nilai Keistimewaan Pada Generasi Muda ” di Kadipaten Pakualaman, Jalan Masjid, Pakualaman Yogyakarta. Jumat (29/12/2023)
Menurutnya Kadipaten Pakualaman sejak berdiri juga berlangsung dengan budayanya yang bercorak Ngayogyakarta, karena Sri Paduka KGPAA Paku Alam I itu putra Sri Sultan HB I dari kraton Ngayogyakarta.

Namun setelah KPAA Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Paku Buwono X yang bernama GBRA Retnopuwoso sebagai permaisuri, maka budaya yang bercorak Surakarta masuk di Kadipaten Pakualaman sehingga Kadipaten Pakualaman hidup dua budaya yang saling berdampingan secara harmonis, budaya bercorak Ngayogyakarta dan budaya bercorak Surakarta.
“Dari peristiwa tersebut Kadipaten Pakualaman mempunyai dua budaya bercorak Ngayogyakarta dan budaya Surakarta, dan ini sah sah saja dilakukan di Kadipaten Pakualaman karena dibawa oleh sejarah” ujar KRMT Projokusumo.
Sebagaimana dicontohkan Projokusumo, disamping menambah khasanah kekayaan budaya dan menghilangkan fanatisme ke kedaerahan. Contoh di Puro Pakualaman ada pisowanan para abdi dalem diperbolehkan mengenakan busana bercorak Ngayogyakarta ataupun busana yang bercorak Surakarta, asal cara memakainya dengan cara yang benar.
Kondisi ini berlangsung pada masa KGPAA Paku Alam VII sampai KGPAA Paku Alam VIII, Namun setelah bertahtanya KGPAA Paku Alam IX dengan dengan pertimbangan bahwa; sebagian wilayah Ngayogyakarta juga milik Kadipaten Pakualaman, Kadipaten Pakualaman berada di Ngayogyakarta, Rakyat Kadipaten Pakualaman juga orang orang dari Ngayogyakarta.

Sehingga di Kadipaten Pakualaman terjadi perubahan yang terutama dari berbusananya dengan busana yang bercorak Ngayogyakarta sama dengan kraton Ngayogyakarta bagi abdi dalemnya mengenakan baju pranakan. Ini berlangsung pada masa KGPAA Paku Alam IX sampai KGPAA Paku Alam X, namun dalam berkesenian masih berlangsung melaksanakan dua budaya.
Dari 4 Projo Kejawen yakni Kraton Surakarta, kraton Ngayogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman mempunyai kekhasan di Kraton Surakarta terkenal dengan keseniannya, Kraton Ngayogyakarta dengan heroik kepahlawanannya, Kadipaten Mangkunegaran dengan kesusastraan, dan Kadipaten Pakualaman dengan penyidikannya.(san)




