Road to YKABF Digelar,Picu Antusiasme Menuju Perhelatan Utama

0
26

MRADAR NASIONAL,-( Yogyakarta),-Sebagai bagian Jangka panjangnya, Yogyakarta Art Book Fair (YKABF) tidak hanya sebagai pameran buku seni tetapi juga sebagai ekosistem budaya yang mempertemukan seniman, penerbit, desainer dan pelaku kreatif lintas disiplin dan geografi.

Hal tersebut disampaikan,Syafiatudina Fair Direktur YKABF 2026 dalam gelar dan peluncuran pra acara bertajuk ” Road to YKABF ” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta Sabtu,(11/4/2026)

YKABF 2026 diselenggarakan 8 sd 16 Mei 2026 di Langgeng Art Space Yogyakarta dengan menghadirkan 43 exhibitor terkurasi dari dalam dan luar negeri.

Pada edisi sebelumnya YKABF menghadirkan 32 exhibitor dari berbagai kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Hong Kong, China, Singapura, Malaysia,dan Vietnam dihadiri lebih dari 2.000 pengunjung selama tiga hari.

Berangkat dari semangat eksperimentasi dan aksebilitas,YKABF mendorong artbook dan zine sebagai medium alternatif dalam produksi pengetahuan yang bersifat personal, berbasis proses dan lekat dengan eksplorasi material.

Road to YKABF 2026 aktivasi memperkenalkan semangat kepada audiens,khususnya mahasiswa, akademisi dan kreator muda. Melalui rangkaian program kurasi mulai dari showcase, diskusi hingga eksplorasi langsung, acara ini membuka ruang dialog antara praktik artistik dan wacana akademik dalam konteks penerbitan independen.

” Road to YKABF kami rancang sebagai titik masuk dimana audiensi baru dapat mengenal semangat penerbitan independen dengan cara yang lebih terbuka dan sudah diakses.Kami ingin membangun keterlibatan sejak awal bukan hanya antisipasi dengan menghadirkan ruang bagi pertukaran ide dan eksplorasi bersama ” ujar Syafiatudina.

Sementara itu Tarien Handayani,pegiat literasi dan praktisi budaya,mengatakan melalui pra acara ini,YKABF juga memperkuat posisinya dalam jaringan global art book fair dan penerbit independen,sekaligus mencerminkan meningkat relevansi praktik penerbitan alternatif dalam membentuk wacana budaya kontemporer.

“Penerbitan independen membuka ruang bagi produksi dan distribusi pengetahuan di luar struktur konvensional. Di dalamnya muncul suara suara yang lebih beragam personal dan kritis — sesuatu yang semakin penting dalam lanskap budaya hari ini.” ujar Tarien Handayani,pegiat literasi dan praktisi budaya.

Sedangkan Daud Sihombing,yang dikenal sebagai peneliti, penerbit Petrikor Books mengatakan dalam konteks budaya visual, artbook bukan sekadar wadah konten tetapi juga bentuk ekspresi itu sendiri ia berada dipersimpangan antara desain,narasi dan eksplorasi material- menjadikan bagian penting dalam cara kita memahami praktik kreatif kontemporer.Sedangkan target pengunjung yang mencakup kalangan mahasiswa, akademisi,pelaku kreatif, hingga masyarakat umum,pra acara ini diharapkan dapat membuka koneksi baru sekaligus memperluas awarennes terhadap YKABF tahun 2026 serta membangun antisipasi menuju perhelatan utamanya.(xan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini