Bahaya Di balik Manisnya Kayu Manis Obat Herbal Kemasan

0
7
Foto Ilustrasi

RADAR NASIONAL -(Jakarta), Saat mengalami gejala masuk angin, batuk, atau perut mual, meminum “obat herbal” cair kemasan saset sering menjadi solusi instan bagi banyak keluarga di Indonesia. Produk “obat herbal” siap minum yang diklaim teruji klinis ini memang terasa hangat di perut dan melegakan tenggorokan. Rasa dan aroma khasnya sebagian besar berasal dari campuran rempah-rempah tradisional, termasuk kayu manis. Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua kayu manis diciptakan sama?

Di balik aroma wangi yang melegakan itu, tersembunyi risiko kerusakan organ kronis yang mengintai para konsumen setianya.

Rahasia pahit ini terletak pada perbedaan jenis kayu manis yang digunakan. Kayu manis Ceylon sering disebut sebagai “kayu manis asli” karena kandungan kumarinnya sangat rendah, hanya sekitar 0,004%. Sayangnya, jenis kayu manis yang paling banyak beredar dan digunakan dalam industri “obat herbal” dalam kemasan di Indonesia adalah kayu manis Cassia (Cinnamomum burmannii).

Kayu manis jenis ini harganya jauh lebih murah dan aromanya lebih kuat, tetapi kandungan kumarinnya bisa mencapai 1%. Ini berarti, kayu manis Cassia mengandung kumarin hingga 250 kali lipat lebih tinggi jika dibandingkan dengan kayu manis Ceylon.

Kumarin adalah senyawa alami yang memberi aroma khas pada kayu manis, tetapi senyawa ini bisa beracun bagi organ hati manusia jika dikonsumsi dalam jumlah banyak atau secara terus-menerus. Badan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) telah menyadari bahaya ini dan secara resmi membatasi asupan harian kumarin.

EFSA menetapkan batas aman konsumsi kumarin (TDI) hanya sebesar 0,1 miligram per kilogram berat badan per hari. Bahkan, Institut Penilaian Risiko Federal Jerman (BfR) mengeluarkan peringatan tegas, “Dari penggunaan kumarin sebagai obat, diketahui bahwa dosis yang relatif kecil sekalipun dapat menyebabkan kerusakan hati pada orang yang sensitif.” Komite Ilmiah Keamanan Pangan Norwegia (VKM) juga mengeluarkan peringatan serupa.

Bahaya kumarin ternyata tidak berhenti pada kerusakan hati. Studi toksikologi terbaru dalam jurnal Regulatory Toxicology and Pharmacology mengungkap bahwa penggunaan ekstrak kayu manis Cassia secara berlebihan atau dalam jangka panjang juga berpotensi memicu nefrotoksisitas, yaitu kerusakan pada ginjal. Selain itu, sebuah studi dalam jurnal Food and Chemical Toxicology (2012) mencatat, “Diketahui dari percobaan pada hewan bahwa kumarin dapat menyebabkan keracunan hati dan dianggap sebagai karsinogen (pemicu kanker) pada tikus melalui jalur oral.” Ancaman lain yang sering tidak disadari adalah interaksinya dengan obat medis; sifat antikoagulan pada kayu manis dapat mengganggu kerja obat pengencer darah, sehingga meningkatkan risiko perdarahan pada pasien.

Jauh sebelum Eropa bertindak, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) sudah melarang penggunaan kumarin sintetik sebagai bahan tambahan makanan sejak tahun 1954. Larangan historis ini menjadi bukti kuat bahwa sifat merusak dari kumarin sudah lama diakui oleh otoritas kesehatan dunia.

Mekanisme kerusakannya terjadi di dalam hati. Saat tubuh berusaha mencerna kumarin, sebagian senyawa ini berubah menjadi zat beracun yang disebut o-HPA. Zat beracun inilah yang secara perlahan merusak sel-sel hati. Yang lebih memprihatinkan, orang Asia ternyata memiliki risiko lebih tinggi. Secara genetik, populasi Asia cenderung memiliki enzim pemecah kumarin yang bekerja lebih lambat, sehingga racun ini lebih lama bertahan dan merusak organ tubuh.

Kasus-kasus klinis telah membuktikan bahaya nyata dari kumarin. Pasien yang mengonsumsi suplemen kayu manis dosis tinggi atau obat turunan kumarin dilaporkan mengalami hepatitis akut dan penyakit kuning berulang. Individu yang sudah memiliki riwayat penyakit hati diimbau untuk sangat berhati-hati, karena konsumsi produk ini dapat memperburuk kondisi mereka. Beruntung, kerusakan hati akibat kumarin biasanya bisa pulih jika konsumsi segera dihentikan.

Fakta-fakta ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat yang sering menyetok dan meminum “obat herbal”. Mengonsumsinya secara rutin—apalagi beberapa saset sehari saat sedang sakit—bisa dengan mudah membuat seseorang melampaui batas aman harian yang ditetapkan oleh EFSA. Konsumen harus lebih kritis dalam memilih produk dan menyadari bahwa bahan alami dalam kemasan “obat herbal” modern pun menyimpan risiko kesehatan jangka panjang.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini