
RADAR NASIONAL,-(Malang),- Kesejukan mulai terasa ketika hari gerimis tipis menyambut sejumlah wisatawan lokal yang hehendaklah nghabiskan waktu libur akhir pekan.
Berlibur di kota Malang yang mendapat julukan kota dingin seolah olah melegenda.Dalam kesehariannya kota ini tak pernah tidur dengan segala aktivitasnya tetap berjalan.
Lihatlah di sepanjng jalan Kampoeng Kayoe tangan tempat nongkrong kawula muda menikmati di kedai kopi dan berbagai makanan Bakso Malang,Roto Malang,Onde²,Pecel,es cendol dan masih banyak dijumpai disepanjang jalan.

Tidak jauh dari aneka jajanan,mewarnai perkampungan legendaris kuno,rumah rumah bangunan sekitar 1870 masih dijumpai di kampung ini juga terdapat rumah milik warga Tionghoa dengan ciri khasnya.Inilah sekelumit perjalanan dikota Malang,sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo.
Berangkat dari stasiun Tugu, YogyakartaSelama dalam perjalanan tak pernah ada hambatan.KA Malabar berjalan mulus membelah gelapnya malam,mengantar kan pukul 11.00 untuk transit sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke wisata Bromo terlebih dahulu menikmati kopi.

Kotanya yang sejuk tertata apik,dan nyaman,arus lalu lintas lancar tidak lepas dari petugas Polres Malang, pengetrapan rekayasa arus lalulintas menuju lokasi Kawasan Bromo aman terkendali.Jalur menuju wisata Bromo sebenarnya dapat ditempuh lewat Probolinggo dan Malang,wisatawan dari Jogja dapat lewat Malang.
Sehingga kenyamanan menikmati liburan nyaman dan aman.Kelancaran ini bertujuan untuk mencegah kemacetan dan keamanan bagi pengunjung wisata Bromo yang dikenal dengan tradisi Kesodhonya.

Tepat pukul 11.00 perjalanan KA Malabar yang kami tumpangi sampai di Stasiun Malang kota.Dan dilanjutkan perjalanan ke Base Came sebelum melanjutkan ke Bromo mendapat penjelasan dan arahan dari pimpinan Trip Sunrise, Ribo mengatakan lokasi Sunrise di area Penanjakan, Bukit Widodaren, Kawah lautan pasir,lautan pasir Berbisik,Padang Savana,Bukit teletabis,Gunung Bathok.Wisatwan dapat mengabadikan dengan latar belakang perbukitan yang menyerupai catatan dinasaurus, bukit Bathok.Wisatawan dapat berfoto dengan jeep wisata, dengan pemandangan bekas menyerupai cakaran dinosaurus.

Sementara itu, Ribo dijumpai mengakui banyak suka duka mengelola Trip,untuk penataan sudah cukup bagus,harapan ke depan agar masalah kemacetan yang masih sering terjadi setiap momen.”Kami berharap Taman Nasional Bromo Tengger Semeru maupun Perhutani untuk mengelola lebih baik,terkait kemacetan.” ungkapnya.
Kami pun berangkat menuju kawasan Bromo setelah terlebih dahulu mendapat penjelasan dan araha dari pemandu wisata, Ribo menuturkan cukup jauh,dari Base came tempat kami istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan dengan KA,tepat pukul 23.00 kami sampai di stasiun kota Malang, sesuai kesepakatan lewat HP akan dijemput pukul 23.00 sehingga kami harus menunggu cukup lama di stasiun.
Meski sedikit kecewa penjemputan menuju Base agak terlambat akhirnya sampai juga di Base came dengan menumpang jeep yang disiapkan.
Bersama rombongan lainnya kami mendapat arahan dari pemandu wisata.Pagi itu pukul 02.00 dini hari sangat dingin,kami mengenakan jaket tebal. Setelah cukup kami mendapat arahan,segera menuju jeep untuk segera menuju kawasan Bromo.
Mobil jeep yang kami tumpangi bersama rombongan wisatawan pemburu sun rise menerobos dinginnya di kaki Bromo.Untuk menuju lokasi bisa ditempuh jalan kaki atau mobil.
Disepanjang jalan menuju Bukit ribuan pengunjung.memadati.Dari informasi pemandu, diperkirakan pukul 05.00 sd 05.30 sunrise muncul.
Untuk menuju Penanjakan dengan waktu tempuh 1 jam dari pukul 02.00 sd 03.30 menuju Penanjakan.Untuk mendapat hasil bidikan kamera kami harus mencari posisi,meski beberapa wisatawan yang lain ingin mendapat view menarik.Ribuan pengunjung mulai bergerak naik dengan tujuan mengabadikan fenomena alam.Setelah cukup puas mengabadikan detik detik sunrise kami mulai turun menuju ke objek wisata.(Nicken)




