
RADAR NASIONAL,-– (Yogyakarta),–Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia penjual pernak pernik mulai berdatangan dari luar kota,Garut, Ciamis maupun Bandung,mereka mencoba mengadu nasib berjualan bernuansa merah putih,mereka menempati tempat strategis menjajakan daganganya tersebar diberbagai tempat, diantaranya Jl. Kaliurang,Jl. Mataram, Kusumanegara,Sultan Agung, Jl.Parangtriitis, Jl.Bantul jalan Juminahan Gedong kuning.
Para pedagang musiman ini muai berdatangan masuk kota Yogya, sebagaimana diungkapkan Rahmat salah seorang pedagang asal Garut,menuturkan datang ke Yogyakarta secara berombongan mencoba mengadu nasibnya dengan berjualan pernak pernik,umbul-umbul,lampion dan bendera dengan berbagai ukuran,dengan harapan berjualan sekaligus memeriahkan peringatan HUT ke 80 Republik Indonesia di Yogyakarta.

Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia penjual pernak pernik mulai berdatangan dari luar kita,Garut Ciamis maupun Bandung,mereka mencoba mengadu nasib berjualan bernuansa merah putih,mereka menempati tempat strategis untuk menjajakan daganganya,pedagang musiman ini dapat dijumpai di sepanjang jl Kaliurang, Gerakan,Kusumanegara.Sultan Agung, jalan Juminahan Gedong kuning.
Para sebagian pedagang pulang setelah akhir Agustus, ia datang ingin menyemarakan ulang tahun kemerdekaan ke 80 RI,sekaligus menjajakan pernak pernik bendera,umbul,lampion dan rontek.Berbagai
asesoris bernuansa merah putih dijajakan di Jl.Bantul Jl.Parangtritis.Suasana tersebut hampir mewarnai dan menambah semaraknya dan meriahnya kota Yogyakarta.
Tak hanya bendera para pedagang ini juga menjual aksesori bernusnsa merah putih.Umbul-umbul berbagai tulisan yang menggugah jiwa nasionalisme tumbuh di setiap dada bangsa Indonesia.Kebanyakan mereka pedagang musiman yang mengadu nasib mengais sebagian rejeki di tengah peringatan kemerdekaan berusia 80 tahun.
Adalah Rahmat asal Garut seorang pedagang pernah pernik sudah lama menekuni berjualan bendera Merah Putih dari berbagai ukuran,ronrek,umbul-umbul berukuran 10 meter.Ia mengaku sudah seminggu berada di Jogja bersama temannya yang tersebar dibeberapa tempat strategi menggelar dagangannya.
Sedangkan pedagang serupa dapat dijumpai di jalan Kaliurang maupun di jalan Bantul,serta diperempatan untuk menjajakan dagangannya.Ia mengakui berjualan dari pagi sampai malam hari,bahkan ia tak khawatir barang dagangan diambil orang.Seperti dialami Wakhidi,penjual bendera dengan dibawah ukuran dengan harga Rp.20.000,-hingga ratusan.
“Awal saya berjualan cuma belajar dari teman saya belajar berjualan,setelah cukup belajarnya,saya menciba mandiri,alhamdulilah, saya berhasil berjualan sendiri.” Ujarnya.
Lain halnya dengan Slamet,berjualan parnak pernik bendera umbul-umbul bendera ukuran kecil menempat di jalan Bantuk,ia mencoba mengadu nasib berjualan bendera,umbul² dsb pada bulan Agustus selebihnya menghabiskan sisa waktunya bertani di sawah membantu orang tuanya pergi ke sawah.
Sedangkan,berbagai ragam bentuk pernak pernik yang dijajakan,seperti umbul² berbagai ukuran,bendera merah putih dari berbagai ukuran kipas,umbul-umbul gapapa,background cantik 5 dan 10 gelombang,baclgrond panjang berhias Garuda 2 dan 5 meter,umbul-umbul panjang 3 sd 4 meter dan masih banyak pernak pernik yang ia bandrol dengan harga Rp 25.000,’ sd Rp.450.000,-Terkait pernak pernik laku keras biasanya bendera dan umbul-umbul.
Ramai pembeli seminggu sebelum peringatan 17 an,sedang hari biasa sepi pembeli.Untuk jenis pernak pernik yang ditawarkan harganya cukup bervariasi,tergantung jenis dan panjang bentuk hiasannya bendera,umbul-umbul, rontek dengan harga berkisar antara Rp.25.000 sd.Rp.400.000 –(San)




