JATENG – Harga tiket Candi Borobudur saat ini menjadi perbincangan masyarakat. Pasalnya tiket untuk bisa naik ke struktur bangunan itu dibanderol dengan harga yang terbilang mahal. Rencana itu disampaikan secara resmi melalui akun Instagram Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Minggu (5/6).
Tak hanya itu, Luhut juga mengungkapkan pembatasan wisatawan akan diberlakukan menggunakan sistem kuota. Sedikitnya hanya 1.200 orang yang diperbolehkan untuk menikmati bangunan Candi Borobudur secara dekat.
“Kami juga sepakat dan berencana untuk membatasi kuota turis yang ingin naik ke Candi Borobudur sebanyak 1.200 orang per hari, dengan biaya 100 dolar untuk wisman dan turis domestik sebesar 750 ribu rupiah,” tulis Luhut.
Menurut Luhut, kebijakan itu bertujuan untuk menjaga kelestarian sejarah dan budaya nusantara. Kenaikan harga tiket dapat menumbuhkan sense of belonging bagi semua pihak untuk mempunyai tanggung jawab dalam merawat dan melestarikan bangunan yang masuk dalam daftar UNESCO itu.
Melihat dari pernyataan Luhut, tentu tak salah jika untuk kepentingan konservasi. Pasalnya, menurut beberapa studi, Candi Borobudur mengalami beberapa kerusakan pada struktur bangunannya.
Dilansir dari laman Balai Konservasi Borobudur, pelestarian bangunan candi Buddha terbesar di dunia itu dipengaruhi oleh dua faktor, meliputi faktor internal dan eksternal. Faktor internal dalam hal pelestarian berhubungan dengan aspek bahan dan konstruksi candi itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor biotis (lumut, algae, dan jasad renik lain) serta faktor abiotis (panas matahari, hujan, kelembaban, termasuk pengelolaan sebagai destinasi wisata).
Pada 2020 lalu, pihak Balai Konservasi Candi Borobudur menemukan adanya kerusakan yang terjadi di lantai 9 dan 10. Tak main-main, tingkat kerusakannya pun mencapai 30 persen.
Sementara itu, struktur tangga batuan asli bangunan suci itu pun ikut mengalami kerusakan hingga hampir 40 persen. Kerusakan tangga batu yang mengalami aus dimungkinkan mengalami percepatan seiring dengan pertumbuhan wisatawan yang saat itu telah mencapai 4 juta per tahunnya.
Studi yang dilakukan oleh tim dari Universitas Gadjah Mada pada 2015, juga menemukan jika bangunan Candi Borobudur mengalami deformasi secara vertikal. Rerata pergeseran secara vertikal atau penurunan bangunan sebesar 6,4 mm per tahun, lebih dominan dibandingkan pergeseran secara horizontal yang mengikuti arah pergerakan tektonik di Pulau Jawa.





