

RADAR NASIONAL,- (Yogyakarta), Panahan atau jemparingan bukan sekedar menarik tali busur dan melepaskan anak panah mengenai sasaran jemparing. Memadukan kemampuan fisik teknik taktik mental ketepatan dan konsistensi.
Jemparingan yang berakar budaya,berasal dari kata “jemparingan” yang mempunyai arti panahan,jemparingan sama dengan panahan tradisional.
Demikian disampaikan KMT Sestrodiprojo dalam dialog budaya Malam Sabtu Kliwon diselenggarakan rutin malam Sabtu Kliwon dengan tema : ” Panahan : Perpaduan Prestasi,nilai Budaya dan Karakter ” dengan narasumber Dr.Heru Prasetyo.M.Pd dan KMT Sestrodiprojo( Ir Rimawani ndalem Bangsal Kadipaten Pakualaman Yogyakarta Jumat (4/9/2026)
Menurutnya,untuk menjadi seorang pemanah (jemparingan) dituntut memiliki jiwa olah rasa,yakni kemampuan mengasah empati,estetika,kepekaan sosial dan Kebudayaan, dan implementasi aksi nyata memiliki kepekaan untuk merawat dan menjaga melestarikan dan menumbuhkan nilai nilai-nilai tradisi yang mengakar di Kadipaten Pakualaman.
Dalam pengembangannya mampu membentuk dan menanamkan nilai nilai moral dalam pembentukan kepribadian dan nilai nilai nilai moral seseorang.
Sejarah panahan di Indonesia tidak lepas dari bekas Dinasti Mataram yakni keraton Ngayogyakarta dan Puro Pakualaman
Sebagaimana diungkapkan kanjeng Rimawan sapaannya menuturkan kegiatan memanah sudah sejak lama dikenal oleh manusia purba baik untuk berburu binatang maupun mata pencaharian sehari hari, pada jaman kerajaan kerajaan kuno,panah sebagai senjata perang,namun dalam perkembangan zaman,panah sebagai senjata tergantikan oleh senapan,meriam bahkan rudal.
Akibat adanya pergeseran penggunaan pilihan tersebut,nilai busur panah beralih fungsi menjadi sarana berolah raga hingga sekarang.
Pertama kali ajang lomba panahan secara nasionl dalam Pekan Olahraga Nasional (PON)I di Surakarta pada 9 September 1948.
Kemudian pada 12 Juli 1953 di Pura Pakualaman Yogyakarta atas prakarsa KGPAA Paku Alam VIII didirikanlah Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI).Sejak saat itu beliau dalam beberapa periode dipercaya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat PERPANI.
Jemparingan khas Pakualaman :
Jemparingan yang menjadi aset budaya Pakualaman adalah jemparing khas dengan posisi duduk bersila.Gaya memanah dengan posisi duduk bersila ini sejalan dengan filosofi jemparingan yakni, Pamenthang ing gandewa,pamantheng ing cipta yang mempunyai arti :Membentangkan busur diiringi dengan konsentrasi tinggi terhadap sasaran yang akan dibidik. Maknanya, Sebuah cita cita akan terwujud dengan sukses jika berbekal kesungguhan hati dan mampu berkonsentrasi penuh.
“Ada nilai positif seseorang berlatih panahan diantaranya,membentuk perilaku bertanggung jawab karena segenap gerak dan sikap dilandasi pertimbangan agar tepat sasaran” ujar Rimawan.
Jemparingan menstimulus empat aspek.
1. Aspek motorik yang berhubungan dengan koordinasi gerak tubuh al.melatih kekuatan tangan menarik busur serta me gatur keseimbangan badan.
2.Aspek emosi berhubungan dengan pengelolaan rada
Contoh : jika memanah disertai letupan emosi tinggi pasti tidak akan mengenai titik sasaran.
3.Aspek kognitif berkaitan dengan kemampuan berpikir.Contoh : kekurangan tepatnya anak panah mengenai sasaran harus dievaluasi dengan cepat agar bisikan selanjutnya tepat sasaran tembak.
4.Aspek karakter : berkaitan dengan ketangguhan dan kerendahan hati.Jika pemanah tanpa dilandasi dua hal tersebut pemanah akan berbuat sewenang wenang.
Sementara itu Dr.Heru Prasetyo M.Pd menyatakan Olahraga Panahan sebagai Olahraga prestasi menyebutkan Olahraga prestasi adalah yakni tingkat 1. akurasi : kemampuan menempatkan anak panah tepat sasaran .2.Konsistensi : kemampuan mengulang kualitas tembakan,3. Stabilitas : menjaga perfroma dibawah tekanan dan.4. Efisiensi : menghasilkan perfroma dengan proses gerak efektif.
Olahraga tradisi yang dalam perkembangannya menjadi Olahraga Panahan sebagai Olahraga
Untuk menjadi atlet panahan ungkap pria asal Klaten ini menyampaikan anatomi prestasi panahan secara anatomi meliputi: 1. fisik yakni kekuatan, daya tahan,stabilitas.2.Tehnik : Stance,set,draw,anchor relasi,follow throuhg.3.Taktik : Strategi pertandingan, manajemen waktu, adaptasi.4.Mental : Focus,percaya diri,kontrol emosi,5. Output : Akurasi +Konsistensi+Prestasi.
Peralatan Panahan. Terdiri busur panah dari bahan bambu dan atau kayu(hand made) . Anak panah terbuat dari bahan bambu atau kayu.Bulu panah terbuat dari buku unggas( ayam,menthok atau Kalkun)Busur setinggi pemanah.
Pesan yang tertera di Regol sisi bàrat berbunyi Guna Titi Purun dengan padanan kata Guna Titi Purun pada piwulang Sestradi terkandung dalam butir antara lain Guna pandai,taberi, tekun, cermat dan istiyar,ikhtiar antara lain dapat dimaknai sbb : Suatu kepandaian dapat terwujud berkat ketekunan dalam berusaha.Kesuksesan tidak ada yang serba instan kesemuanya butuh ketekunan, kesabaran,ketangguhan dan selalu berpikir secara efektif.(san)




